Dari Mana Manusia Berasal ?
Saat ini ada dua teori yang menyesatkan orang banyak. Al-Qur’an dengan tegas membantah teori itu. Pertama, teori yang mengatakan manusia ada dengan sendirinya. Dibantah Al-Qur’an dengan hujjah yang kuat, bahwa manusia ada karena diciptakan oleh Allah swt. Kedua, teori yang mengatakan manusia ada dari proses evolusi panjang, yang bermula dari sebangsa kera kemudian berubah menjadi manusia. Teori ini pun dibantah dengan sangat pasti bahwa manusia pertama adalah Adam as. Kemudian selanjutkannya anak cucu Adam as. diciptakan Allah swt. dari jenis manusia itu sendiri yang berasal dari percampuran antara sperma lelaki dengan sel telur wanita, maka lahirlah manusia.
Teori Darwin mengatakan manusia mencapai bentuk sekarang ini setelah proses evolusi yang panjang. Penekanannya adalah manusia berawal dari hewan yang mengalami evolusi yang panjang. Ada yang mengatakan manusia berasal dari kera. Ada pula yang mengatakan dari reptil. Jika dibandingkan secara kasat mata dengan apa yang tertulis di kitab suci seperti Injil atau Alquran, sains atau penemuan manusia ini seakan sangat bertentangan.
Hal inilah yang kemudian memacu, Dr. Maurice Bucaille selama lebih dari 40 tahun memusatkan perhatiannya pada bidang biologi molekuler dan genetika. Dokter dari Prancis ini kemudian menelaah dari dekat kitab-kitab suci agama-agama monoteistik, Yahudi, Nasrani dan Islam. Buku ini adalah ringkasan dari hasil telaahnya itu.
Di dalam buku ini, ia menunjukkan, sains dan agama sama sekali tidak bertentangan. Keduanya bahkan sangat selaras. Dari kitab-kitab suci yang ia telaah tersebut ia menemukan Alquran berbeda dengan kitab-kitab suci lainnya. Alquran terlepas dari kesalahan-kesalahan manusiawi yang bisa ditemukan pada kitab-kitab suci lain yang merupakan hasil penulisan kembali oleh orang lain.
Melalui buku ini, Bucaille meyakini bahwa ayat-ayat Al-Quran tentang berbagai fenomena di alam, khususnya tentang asal-usul makhluk hidup, proses biologis pada organisme makhluk hidup, proses-proses biologis pada organisme hidup, tidak berentangan dengan fakta yang ditemukan sains.
Salah satu contohnya kesesuaian antara teori ledakan besar (big bang) dengan ayat dalam Al-Quran (QS Al Anbiya [21] : 30) : “dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan keduanya….,” secara tersirat ayat tersebut menyatakan langit dan bumi dahulu merupakan suatu kesatuan lalu kemudian mengalami pemisahan. Dalam sains, mekanisme teori big bang juga menjelaskan mengenai pemisahan langit dan bumi tersebut.
Bucaille juga berpandangan ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang penciptaan Adam dalam (QS Al-A’raf [7]: 11) “Sesungguhnya kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu…” sebagai sebuah pernyataan sebuah proses. Ia meyakini ayat tersebut menyiratkan adanya proses perubahan atau transformasi bentuk manusia dalam perjalanan waktu transformasi bentuk manusia dalam perjalan waktu yang panjang sehingga mencapai bentuk sempurna seperti saat ini. Menurutnya, manusia juga mengalami proses evolusi sebagaimana hewan dan makhluk hidup lainnya. Namun, yang membedakan evolusi manusia ini telah diarahkan Tuhan dengan mendesainnya menjadi bentuk yang sempurna seperti sekarang.
Untuk Apa Manusia Hidup ?
Jika melihat dari asal kejadiannya dan kesudahan hidup kita kelak, orang yang bijak akan menyadari bahwa kehidupan kita yang sebenarnya bukan di dunia ini. Dunia ini hanyalah jembatan saja menuju ke kehidupan akhirat, tempat asal kita. Marilah kita coba merujuk kepada Tuhan yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini, yang membekali manusia dengan hati ( jiwa atau ruh ), akal dan nafsu. “Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembahKu” (Az Zaariyat: 53)
“Sesungguhnya Kami telah mengilhamkan kepada jiwa itu dua jalan yaitu jalan kefasikan dan jalan ketaqwaan.” (Asy Syam: 8)
“Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan.” (Yusuf: 53)
“Apakah tidak engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu sebagai Tuhan, lalu dia disesatkan ALLAH.” ( Al Jaasyah: 23)
Maknanya, Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menuju kepadaNya. Dan untuk memudahkan hal itu maka Tuhan membekali dengan jiwa yang bertaqwa dan akal untuk memikirkan, mengkaji dan memilih. Kemudian kembali kepada masing-masing individu untuk memilih tujuan hidupnya, menuju ALLAH atau mengikuti hawa nafsunya.
Kemana Setelah Mati ?
Dengan diberi petunjuk akal dan wahyu, manusia adalah makhluk yang akan dimintai tanggung jawab oleh Tuhan atas segala perbuatannya semasa hidup di dunia. Dan pertanggungjawaban ini akan dituntut Allah SWT pada waktu manusia dihadapkan ke pengadilanNya di padang Mahsyar (hari kiamat).
Di padang Mahsyar, besok pada hari kiamat, anggota badan manusia seperti lisan, tangan, kaki dan yang lainnya akan menjadi saksi atas segala perbuatan yang dilakukannya. Seumpama seseorang melakukan pencurian, maka ketika dihisab di padang Mahsyar, tangan, kaki, dan anggota badan yang lainnya akan menjadi saksi atas perbuatan tersebut. Perhatikan firman Allah dalam Al Qur’an (QS.Nur:24): “Pada hari menjadi saksi atas mereka, lidah, tangan dan kaki mereka, tentang segala apa yang telah mereka kerjakan.”
Selain itu, Allah SWT juga akan menghadirkan bumi tempat di mana orang itu melakukan perbuatannya
Sebagai saksi ketiga adalah buku catatan yang ditulis oleh malaikat Raqib dan Atid. Firman Allah dalam Al Qur’an: “Dan tiap-tiap manusia, Kami (Allah) gantungkan segala perbuatan di kuduknya dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah buku yang dijumpainya terbuka. Bacalah bukumu, cukuplah dirimu sendiri menghitung apa yang kamu kerjakan.”
Demikianlah, dengan adanya saksi tersebut keadilan Allah pun berlaku, sehingga amat sulit bagi manusia untuk melepaskan tanggungjawab atas segala perbuatan yang dilakukannya semasa hidup di dunia.
“Barang siapa yang mengerjakan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.”
Setelah itu barulah manusia divonis, apakah dengan nikmat dia masuk ke surga, atau dengan laknat dia masuk ke neraka. Itu semua tergantung kepada perbuatannya masing-masing.
Rabu, 06 Oktober 2010
Pegantar Ilmu Pertanian-Upaya Perlindungan Plasma Nutfah Tanaman dan Ternak
Upaya Perlindungan Plasma Nutfah Tanaman dan Ternak
Petani dapat ikut berperan dalam konservasi plasma nutfah dengan berbagai cara.
Dengan adanya anjuran penanaman kultifar unggul nasional, maka kultivar-kultivar local tanaman pangan telah tergantikan, terdesak dan menuju pada arah kepunahan. Kultivar unggul nasional yang seragam mengakibatkan daya sangga genetic yang lemah dan rentan terhadap serangan hama penyakit.
Perlu dirintis program pemuliaan partisipatif, untuk memperkuat upaya penyediaan kultivar unggul yang adaptif terhadap lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat spesifik. Petani sebagai pengguna kultivar unggul perlu perlu dilibatkan secara partisipatif dalam program pemuliaan dan pelepasan kultivar.
Kultivar-kultivar local yang memiliki karakter-karakter khusus yang unik perlu dilestarikan secara in-situ dengan melibatkan partisipasi petani.
Peletarian plasma nutfah dan pemuliaan tanaman untuk menyediakan kultivar unggul tidak boleh dimonopoli secara sepihak oleh peneliti, tetapi harus melibatkan petani sebagai pengguna langsung kultivar dan petani sebagai pearis kultivar-kultivar local.
Pelepasan kultivar unggul secara regional atau berdasarkan wilayah dinilai lebih tepat disbanding pelepasan kultivar secara natsional, lebih-lebih pada masa pemerintahan otonomi daerah yang telah dimulai pada tahun 2001
Pengelolahan plasma nutfah ternak meliputi kegiatan eksplorasi, karakterisasi, evaluas, konservasi, dan dokumentasi (pengembangan database plasma nutfah ternak).
1. Eksplorasi
Eksplorasi terhadap ternak-ternak local dilakukan untuk menginventarisasi berbagai macam rumpun ternak local yang ada, populasi dan penyebarannya saat ini.
2. Karakterisasi dan evaluasi
Untuk melihat potensi produksi berbagai komoditas ternak telah dilakukan berbagai kegiatan karakteristik dan evaluasi. Karakteristik berbagai komoditas ternak dilakukan untuk berbagai sifat fisik yang menjadi cirri khas bangsa atau rumpun ternak.
3. Konservasi
Kebijakan pelestarian ternak di Indonesia dlakukan dengan cara in-situ (pelestarian ternak ditempat asal) dan ex-situ (pelestarian ternak di luar lokasi asal ternak berada). Pelestarian sumber daya genetic ternak secara in-situ merupakan upaya pelestarian yang dilakukan terhadap ternak sekaligus lingkungan dan sifat-sifat khasnya dimana cara pelestarian ini relative lebih efisian da berdampak langsung terhadap masyarakat luas. Pelestarian ex-situ dengan cara kriokonservasi spermatozoa dan embrio, biasa dilakukan untuk pelestarian in-situ.
4. Dokumentasi
Data dan informasi hasil kegiatan eksplorasi, karakterisasi dan evaluasi pada ternak didokumentasi dalam bentuk database. Kebutuhan dokumentasi data yang terkomputerisasi dirasa sangat penting sejalan dengan bertambahnya jumlah data yang dihasilkan dari kegiatan pengelolahan plasma nutfah dan kebutuhan akses informasi plasma nutfah ternak oleh pihak membutuhkan informasi.
Petani dapat ikut berperan dalam konservasi plasma nutfah dengan berbagai cara.
Dengan adanya anjuran penanaman kultifar unggul nasional, maka kultivar-kultivar local tanaman pangan telah tergantikan, terdesak dan menuju pada arah kepunahan. Kultivar unggul nasional yang seragam mengakibatkan daya sangga genetic yang lemah dan rentan terhadap serangan hama penyakit.
Perlu dirintis program pemuliaan partisipatif, untuk memperkuat upaya penyediaan kultivar unggul yang adaptif terhadap lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat spesifik. Petani sebagai pengguna kultivar unggul perlu perlu dilibatkan secara partisipatif dalam program pemuliaan dan pelepasan kultivar.
Kultivar-kultivar local yang memiliki karakter-karakter khusus yang unik perlu dilestarikan secara in-situ dengan melibatkan partisipasi petani.
Peletarian plasma nutfah dan pemuliaan tanaman untuk menyediakan kultivar unggul tidak boleh dimonopoli secara sepihak oleh peneliti, tetapi harus melibatkan petani sebagai pengguna langsung kultivar dan petani sebagai pearis kultivar-kultivar local.
Pelepasan kultivar unggul secara regional atau berdasarkan wilayah dinilai lebih tepat disbanding pelepasan kultivar secara natsional, lebih-lebih pada masa pemerintahan otonomi daerah yang telah dimulai pada tahun 2001
Pengelolahan plasma nutfah ternak meliputi kegiatan eksplorasi, karakterisasi, evaluas, konservasi, dan dokumentasi (pengembangan database plasma nutfah ternak).
1. Eksplorasi
Eksplorasi terhadap ternak-ternak local dilakukan untuk menginventarisasi berbagai macam rumpun ternak local yang ada, populasi dan penyebarannya saat ini.
2. Karakterisasi dan evaluasi
Untuk melihat potensi produksi berbagai komoditas ternak telah dilakukan berbagai kegiatan karakteristik dan evaluasi. Karakteristik berbagai komoditas ternak dilakukan untuk berbagai sifat fisik yang menjadi cirri khas bangsa atau rumpun ternak.
3. Konservasi
Kebijakan pelestarian ternak di Indonesia dlakukan dengan cara in-situ (pelestarian ternak ditempat asal) dan ex-situ (pelestarian ternak di luar lokasi asal ternak berada). Pelestarian sumber daya genetic ternak secara in-situ merupakan upaya pelestarian yang dilakukan terhadap ternak sekaligus lingkungan dan sifat-sifat khasnya dimana cara pelestarian ini relative lebih efisian da berdampak langsung terhadap masyarakat luas. Pelestarian ex-situ dengan cara kriokonservasi spermatozoa dan embrio, biasa dilakukan untuk pelestarian in-situ.
4. Dokumentasi
Data dan informasi hasil kegiatan eksplorasi, karakterisasi dan evaluasi pada ternak didokumentasi dalam bentuk database. Kebutuhan dokumentasi data yang terkomputerisasi dirasa sangat penting sejalan dengan bertambahnya jumlah data yang dihasilkan dari kegiatan pengelolahan plasma nutfah dan kebutuhan akses informasi plasma nutfah ternak oleh pihak membutuhkan informasi.
Pegantar Ilmu Pertanian-KONDISI GIZI DI INDONESIA SAAT INI
KONDISI GIZI DI INDONESIA SAAT INI
Sekitar 37,3 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, separo dari total rumah tangga mengonsumsi makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari, lima juta balita berstatus gizi kurang, dan lebih dari 100 juta penduduk berisiko terhadap berbagai masalah kurang gizi.
Itulah sebagian gambaran tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh untuk diatasi. Apalagi Indonesia sudah terikat dengan kesepakatan global untuk mencapai Millennium Development Goals (MDG's) dengan mengurangi jumlah penduduk yang miskin dan kelaparan serta menurunkan angka kematian balita menjadi tinggal separo dari keadaan pada tahun 2000.
Berdasarkan data Susenas, prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita telah berhasil diturunkan dari 35,57 persen tahun 1992 menjadi 24,66 persen pada tahun 2000.
Namun, terdapat kecenderung peningkatan kembali prevalensi pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu, jika melihat pertumbuhan jumlah penduduk dan proporsi balita pada dari tahun ke tahun, sebenarnya jumlah balita penderita gizi buruk dan kurang cenderung meningkat.
Kronisnya masalah gizi buruk dan kurang pada balita di Indonesia ditunjukkan pula dengan tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting <-2 SD). Masih sekitar 30-40 persen anak balita di Indonesia diklasifikasikan pendek. Tingginya prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita, berdampak juga pada gangguan pertumbuhan pada anak usia baru masuk sekolah. Pada tahun 1994 prevalensi gizi kurang menurut tinggi badan anak usia 6-9 tahun adalah 39,8 persen dan hanya berkurang sebanyak 3,7 persen, yaitu menjadi 36,1 persen pada tahun 1999.
Masalah gizi lainnya yang cukup penting adalah kurang vitamin A, kurang yodium, dan kurang zat besi. Meskipun berdasarkan hasil survei nasional tahun 1992 Indonesia dinyatakan telah bebas dari xerophthalmia, masih 50 persen dari balita mempunyai serum retinol <20 mcg/100 ml, yang berarti memiliki risiko tinggi untuk munculnya kembali kasus xeropthalmia. Sementara prevalensi gangguan akibat kurang yodium (GAKY) pada anak usia sekolah di Indonesia adalah 30 persen pada tahun 1980 dan menurun menjadi 9,8 persen pada tahun 1998.
Walaupun terjadi penurunan yang cukup berarti, GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena secara umum prevalensi masih di atas 5 persen dan bervariasi antar wilayah, dimana masih dijumpai kecamatan dengan prevalensi GAKY di atas 30 persen.
Diperkirakan sekitar 18,16 juta penduduk hidup di wilayah endemik sedang dan berat; dan 39,24 juta penduduk hidup di wilayah endemis ringan. Masalah berikutnya adalah anemia gizi akibat kurang zat besi. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil adalah 50,9 persen pada tahun 1995 dan turun menjadi 40 persen pada tahun 2001, sedangkan pada wanita usia subur 15-44 tahun masing-masing sebesar 39,5 persen pada tahun 1995 dan 27,9 persen pada 2001. Prevalensi anemia gizi berdasarkan SKRT 2001 menunjukkan bahwa 61,3 persen bayi < 6 bulan, 64,8 persen bayi 6-11 bulan, dan 58 persen anak 12-23 bulan menderita anemia gizi.
Penyebab Utama Masalah Gizi
Terdapat dua faktor yang terkait langsung dengan masalah gizi khususnya gizi buruk atau kurang, yaitu intake zat gizi yang bersumber dari makanan dan infeksi penyakit. Kedua faktor yang saling mempengaruhi tersebut terkait dengan berbagai faktor penyebab tidak langsung yaitu ketahanan dan keamanan pangan, perilaku gizi, kesehatan badan dan sanitasi lingkungan.
Intake zat gizi yang berasal dari makanan yang dikonsumsi seseorang merupakan salah satu penyebab langsung dari timbulnya masalah gizi. Rata-rata konsumsi energi penduduk Indonesia tahun 2002 adalah sekitar 202 kkal/kap/hari yang berarti sekitar 90.4 persen dari kecukupan yang dianjurkan. Sementara rata-rata konsumsi protein sekitar 54,4 telah melebih kecukupan protein yang dianjurkan baru mencapai 90,4 persendari kecukupan gizi yang dianjurkan sebesar 2200 kkal/hari.
Selain masih rendahnya tingkat konsumsi energi, data menunjukkan bahwa pola konsumsi pangan penduduk belum memenuhi kaidah gizi baik dari segi kualitas maupun keragamannnya, dimana masih terjadi: (1) kelebihan padi-padian; (2) sangat kekurangan pangan hewani; dan (3) kurang umbi-umbian, sayur dan buah, kacang-kacangan, minyak dan lemak, buah/biji berminyak serta gula. Kondisi tersebut mencerminkan tingginya ketergantungan konsumsi pangan penduduk pada padi-padian terutama beras.
Sekitar 37,3 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, separo dari total rumah tangga mengonsumsi makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari, lima juta balita berstatus gizi kurang, dan lebih dari 100 juta penduduk berisiko terhadap berbagai masalah kurang gizi.
Itulah sebagian gambaran tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia yang perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh untuk diatasi. Apalagi Indonesia sudah terikat dengan kesepakatan global untuk mencapai Millennium Development Goals (MDG's) dengan mengurangi jumlah penduduk yang miskin dan kelaparan serta menurunkan angka kematian balita menjadi tinggal separo dari keadaan pada tahun 2000.
Berdasarkan data Susenas, prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita telah berhasil diturunkan dari 35,57 persen tahun 1992 menjadi 24,66 persen pada tahun 2000.
Namun, terdapat kecenderung peningkatan kembali prevalensi pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu, jika melihat pertumbuhan jumlah penduduk dan proporsi balita pada dari tahun ke tahun, sebenarnya jumlah balita penderita gizi buruk dan kurang cenderung meningkat.
Kronisnya masalah gizi buruk dan kurang pada balita di Indonesia ditunjukkan pula dengan tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting <-2 SD). Masih sekitar 30-40 persen anak balita di Indonesia diklasifikasikan pendek. Tingginya prevalensi gizi buruk dan kurang pada balita, berdampak juga pada gangguan pertumbuhan pada anak usia baru masuk sekolah. Pada tahun 1994 prevalensi gizi kurang menurut tinggi badan anak usia 6-9 tahun adalah 39,8 persen dan hanya berkurang sebanyak 3,7 persen, yaitu menjadi 36,1 persen pada tahun 1999.
Masalah gizi lainnya yang cukup penting adalah kurang vitamin A, kurang yodium, dan kurang zat besi. Meskipun berdasarkan hasil survei nasional tahun 1992 Indonesia dinyatakan telah bebas dari xerophthalmia, masih 50 persen dari balita mempunyai serum retinol <20 mcg/100 ml, yang berarti memiliki risiko tinggi untuk munculnya kembali kasus xeropthalmia. Sementara prevalensi gangguan akibat kurang yodium (GAKY) pada anak usia sekolah di Indonesia adalah 30 persen pada tahun 1980 dan menurun menjadi 9,8 persen pada tahun 1998.
Walaupun terjadi penurunan yang cukup berarti, GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena secara umum prevalensi masih di atas 5 persen dan bervariasi antar wilayah, dimana masih dijumpai kecamatan dengan prevalensi GAKY di atas 30 persen.
Diperkirakan sekitar 18,16 juta penduduk hidup di wilayah endemik sedang dan berat; dan 39,24 juta penduduk hidup di wilayah endemis ringan. Masalah berikutnya adalah anemia gizi akibat kurang zat besi. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil adalah 50,9 persen pada tahun 1995 dan turun menjadi 40 persen pada tahun 2001, sedangkan pada wanita usia subur 15-44 tahun masing-masing sebesar 39,5 persen pada tahun 1995 dan 27,9 persen pada 2001. Prevalensi anemia gizi berdasarkan SKRT 2001 menunjukkan bahwa 61,3 persen bayi < 6 bulan, 64,8 persen bayi 6-11 bulan, dan 58 persen anak 12-23 bulan menderita anemia gizi.
Penyebab Utama Masalah Gizi
Terdapat dua faktor yang terkait langsung dengan masalah gizi khususnya gizi buruk atau kurang, yaitu intake zat gizi yang bersumber dari makanan dan infeksi penyakit. Kedua faktor yang saling mempengaruhi tersebut terkait dengan berbagai faktor penyebab tidak langsung yaitu ketahanan dan keamanan pangan, perilaku gizi, kesehatan badan dan sanitasi lingkungan.
Intake zat gizi yang berasal dari makanan yang dikonsumsi seseorang merupakan salah satu penyebab langsung dari timbulnya masalah gizi. Rata-rata konsumsi energi penduduk Indonesia tahun 2002 adalah sekitar 202 kkal/kap/hari yang berarti sekitar 90.4 persen dari kecukupan yang dianjurkan. Sementara rata-rata konsumsi protein sekitar 54,4 telah melebih kecukupan protein yang dianjurkan baru mencapai 90,4 persendari kecukupan gizi yang dianjurkan sebesar 2200 kkal/hari.
Selain masih rendahnya tingkat konsumsi energi, data menunjukkan bahwa pola konsumsi pangan penduduk belum memenuhi kaidah gizi baik dari segi kualitas maupun keragamannnya, dimana masih terjadi: (1) kelebihan padi-padian; (2) sangat kekurangan pangan hewani; dan (3) kurang umbi-umbian, sayur dan buah, kacang-kacangan, minyak dan lemak, buah/biji berminyak serta gula. Kondisi tersebut mencerminkan tingginya ketergantungan konsumsi pangan penduduk pada padi-padian terutama beras.
Pegantar Ilmu Pertanian-PAYA PENCEGAHAN, PENANGGULANGAN DAN PENANGANAN KERAWANAN PANGAN
UPAYA PENCEGAHAN, PENANGGULANGAN DAN PENANGANAN KERAWANAN PANGAN
Saat ini Indonesia menghadapi permasalahan dibidang sosial, ekonomi, dan politik. Jumlah penduduk miskin terus meningkat, dengan demikian semakin banyak orang yang menghadapi rawan pangan. Secara umum, Indonesia mempunyai permasalahan serius yang berkaitan dengan ketahanan pangan rumah tangga untuk 10 tahun terakhir seperti halnya prevalensi anak-anak kurang gizi.
Terjadinya kasus rawan pangan dan gizi buruk di beberapa daerah, menunjukkan bahwa masalah ketahanan pangan bukan masalah yang sederhana dan dapat diatasi sesaat saja, melainkan merupakan masalah yang cukup kompleks karena tidak hanya memperhatikan situasi ketersediaan pangan atau produksi disisi makro saja melainkan juga harus memperhatikan program-program yang terkait dengan fasilitasi peningkatan akses terhadap pangan dan asupan gizi baik ditingkat rumah tangga maupun bagi anggota rumah tangga itu sendiri.
Masalah ketahanan pangan memiliki dimensi tersendiri dilihat dari keamanan pangan, keanekaragaman pangan dan kualitas pangan. Pangan sebagai kebutuhan pokok terpenting, memiliki keterkaitan langsung dan tidak langsung dengan kondisi kesehatan, kecerdasan dan produktivitas sumberdaya manusia. Di samping itu pemenuhan kebutuhan pangan bagi seluruh penduduk Indonesia merupakan fondasi kuat untuk pembentukan kualitas manusia bangsa Indonesia, merupakan pilar bagi pembangunan ekonomi dan sektor lainnya, serta merupakan wahana untuk memenuhi hak azasi setiap insan atas pangan.
Oleh karena itu berbagai program pembangunan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat kabupaten/kota perlu lebih diarahkan pada dukungan fasilitasi peningkatan produksi dan ketersediaan pangan, distribusi dan aksesibilitas pangan dan perbaikan konsumsi pangan antara lain: (1) pemanfaatan potensi dan keragaman sumberdaya lokal secara efisien dengan memanfaatkan teknologi spesifik lokasi; (2) pengembangan sarana prasarana yang mendukung produksi pangan; (3) peningkatan pelayanan penyuluhan dan pendampingan ketahanan pangan masyarakat (4) pengembangan perdagangan pangan regional dan antar daerah; (5) pengembangan lumbung pangan dan cadangan pangan (6) peningkatan kualitas konsumsi pangan melalui upaya diversifikasi konsumsi pangan (7) revitalisasi Kewaspadaan Pangan dan Gizi sebagai sistem pemantauan secara dini rawan pangan serta (8) serta fasilitasi terhadap permasalahan lain yang terkait dengan penanganan kelompok rawan pangan diatas.
1. Sistem kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) dimaksudkan sebagai rangkaian kegiatan pengamatan situasi pangan dan gizi melalui penyediaan data/informasi, pengolahan data, dan analisis serta rencana intervensi untuk penanganan masalah gangguan pangan dan gizi. SKPG merupakan suatu sistem pendeteksian dan pengelolaan informasi tentang situasi pangan dan gizi, yang berjalan terus menerus. Oleh karena itu penerapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi diharapkan dapat diandalkan sebagai alat pemantauan dini, pengolahan dan analisis data, peramalan, pemetaan, maupun perencanaan penanggulangan/intervensi masalah kerawanan pangan dan gizi dengan mengoptimalkan koordinasi lintas sektor.
Melalui kegiatan analisis situasi pangan dan gizi yang didasarkan pada data laporan rutin yang tersedia, atau berdasar hasil survei-survei khusus, dapat dijadikan bahan pengambilan Keputusan ataupun Tindakan Penanganan Masalah Krisis Pangan dan Gizi. Informasi yang dihasilkan menjadi dasar perencanaan, penentuan kebijakan, koordinasi program dan kegiatan penanggulangan kerawanan pangan dan gizi serta evaluasi program jangka panjang maupun program jangka pendek.
Informasi yang dihasilkan dari penerapan SKPG melalui tindakan peramalan secara berkala dapat dijadikan bahan tindakan prefentif terhadap produksi pangan, dengan mewaspadai situasi, melakukan pemantauan tanda-tanda secara intensif Selain itu dipergunakan apabila terjadi ancaman terjadinya krisis pangan, dengan melakukan analisis Indikator dan, krisis pangan/ kelaparan tingkat rumah tangga, gizi kurang dan gizi buruk.
Dengan terjadinya krisis pangan akibat kekeringan, banjir, serangan hama dan penyakit membawa dampak yang memberatkan kehidupan masyarakat, terutama yang tidak memiliki ketahanan ekonomi termasuk para petani di pedesaan yang ikut dalam proses produksi. Untuk menanggulangi dampak krisis tersebut dilaksanakan langkah mendesak melalui intervensi. Jenis intervensi sebagai upaya penanggulangan masalah pangan ditetapkan berdasarkan jenis masalah dengan memperhatikan keadaan daerah.
Melalui kegiatan SKPG dilakukan identifikasi dan inventarisasi daerah rawan pangan kronis dan transient secara dini, sehingga dapat diketahui daerah dan kelompok masyarakat tani (beberapa kelompoktani) yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya dan sebab-sebab terjadinya kerawanan pangan
2. Pemberdayaan Daerah Rawan Pangan (PDRP)
Kegiatan penanganan daerah rawan pangan telah dimulai sejak tahun 2002 dalam bentuk kegiatan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Pemberdayaan Daerah Rawan Pangan (PDRP). Pada tahun berikutnya PDRP tidak lagi dalam bentuk BLM, akan tetapi merupakan kegiatan bantuan kepada masyarakat yang mengalami rawan pangan karena terkena dampak bencana.
PDRP tahun 2004 selain sudah diberikan batasan-batasan dalam Pedoman Umum Program Peningkatan Ketahanan Pangan TA 2004 tentang bentuk bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam pemanfaatan dana PDRP, masih dipandang perlu untuk memberikan Pedomam Umum Pemberdayaan Daerah Rawan Pangan Tahun 2004.
Pada tahun 2006 alokasi dana dikabupaten digabungkan dengan dana kegiatan Desa Mandiri Pangan yaitu rata-rata sebesar Rp.50 juta. Pemanfaatan dana di kabupaten adalah Rp.25 juta untuk kegiatan identifikasi melalui penerapan SKPG dan Rp.25 juta untuk keperluan intervensi.
Bagi kabupaten yang tidak terdapat alokasi dana Tugas Pembantuan, maka dananya dititipkan di provinsi berupa dana dekonsentrasi yang besarnya bervariasi sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan. Bagi daerah yang tidak ada alokasi dana Tugas Pembantuan tugas, apabila terjadi kerawanan pangan maka dana sebesar Rp.25 juta yang dititipkan di provinsi dapat dipergunakan.
Pada tahun 2006 akan diselenggarakan Workshop Penguatan PDRP dalam rangka menyempurnakan Pedum PDRP yang sebelumnya dijadikan acuan dalam pelaksanaan PDRP.
3. Koordinasi Penanganan Kerawanan di Papua, NTB dan NTT
Tiga propinsi yang cukup menonjol masalah kerawanan pangan dan perlu diupayakan penanganannya melalui koordinasi yang baik dengan melibatkan berbagai instansi terkait antara lain di propinsi Papua, khususnya di Yahukimo, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Fokus kegiatan yang dilakukan bertujuan untuk mengindentifikasi masalah rawan pangan dan gizi buruk, menginventarisasi upaya yang telah dilakukan, mengindentifikasi kebutuhan akan bantuan yang diperlukan, melakukan intervensi terbatas sebagai pemicu stakeholder untuk melakukan hal serupa dan sebagai acuan dalam menghapuskan kerawanan pangan.
a. Penanganan di Papua (Yahukimo)
Berdasarkan laporan yang dihimpun, pada dasarnya di Yahukimo belum ada masalah kesehatan yang terkait dengan busung lapar, namun ada indikasi kekurangan bahan pangan. Hal tersebut ditandai dengan dikonsumsinya sayur-sayuran dan buah-buahan dari hutan, karena kebun yang ditanami belum menghasilkan. Sedangkan kasus kematian yang dilaporkan disebabkan karena dehidrasi diare, penyakit ispa dan malaria. Beberapa anak juga diindikasikan mengalami gizi kurang dan kekurangan vitamin.
Untuk mengatasi masalah di Yahukimo telah dilakukan koordinasi penanganan lintas sektoral dengan fokus kegiatan seperti : penataan pemukiman, pengembangan infrastruktur, pembangunan pertanian dan cadangan pangan, penguatan/pemberdayaan kapasitas kelembagaan masyarakat. Rencana yang akan dilakukan dalam jangka menengah adalah pemukiman kembali masyarakat lokal yang tersebar dengan memberikan bantuan perumahan dan pembangunan infrastrtuktur pedesaan, serta bantuan saprodi. Kegiatan lainya adalah pengembangan pangan alternatif (jagung, talas dan sukun), peningkatan pelayanan medis dan penyuluhan pertanian serta pengelolaan cadangan pangan. Rencana jangka panjang adalah peningkatan kemampuan produksi pangan, pengelolaan cadangan pangan dan peningkatan pendapatan masyarakat. Rencana tersebut diimplementasikan melalui kegiatan perbaikan dan pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan, pembangunan dan perbaikan sistem usahatani, pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan, pembangunan infrastruktur penelitian lapangan, peningkatan kemampuan masyarakat dan aparat dalam mengelola usahatani dan lumbung pangan serta revitalisasi TPG.
b. Penanganan di Nusa Tenggara Barat
Masalah yang timbul di NTB adalah gizi kurang. Sampai dengan Juni 2005 tercatat 1.355 balita mengalami gizi kurang, 1.300 gizi buruk, termasuk 596 balita mengalami marasmus, 22 balita mengalami kwashiorkor, dan 17 balita mengalami kasus marasmus – kwashiorkor.
Upaya penanganan balita gizi kurang dan gizi buruk memerlukan pendekatan menyeluruh melalui tahapan pencegahan, tanggap darurat dan rehabilitasi konstruksi. Yang pelaksanaannya harus berkoordinasi antar instansi terkait. Fokus kegiatan yang jangka menengah dan jangka panjang adalah peningkatan ekonomi dan perbaikan konsumsi gizi rumah tangga. Dalam jangka menengah fokus kegiatannya adalah penyediaan sarana produksi dan pengembangan pekarangan, penyebaran ternak ayam dan kambing, gerakan diversifikasi pangan dan gizi, revitalisasi TPG, replikasi kegiatan PIDRA, SPFS dan Desa Mandiri Pangan. Fokus pembangunan jangka panjang adalah perbaikan infrastruktur pedesaan, pengembangan lumbung pangan masyarakat, pangan olahan dan olahannya, pengembangan tanaman bernilai ekonomi (sukun, nangka, mangga dan jambu mete), pengembangan warung desa sebagai sarana promosi pangan beragam dan bergizi seimbang, melanjutkan kegiatan PIDRA, SPFS dan Desa Mandiri Pangan.
c. Penanganan di Nusa Tenggara Timur
Masalah penyebab gizi buruk dan rawan pangan lebih kompleks karena menyangkut masalah kekeringan dan kemiskinan serta faktor lain seperti pemahaman soal gizi seimbang dan lainnya. Jumlah penderita gizi buruk 11.440 orang dengan rincian mengalami marasmus 292 orang, kwashiorkor 1 orang dan marasmus-kwashiorkor 4 orang (Juni 2005).
Dalam rangka mengatasi masalah gizi buruk dan rawan pangan, fokus kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan kapasitas produksi pangan dan peningkatan pendapatan ekonomi rumah tangga. Untuk jangka menengah kegiatan yang dilaksanakan adalah penguatan dan pengembangan kapasitas produksi pangan melalui bantuan benih padi, jagung, kacang tanah dan kacang hijau, serta bantuan sarana produksi pertanian. Selain hal tersebut, dilakukan upaya pemanfaatan lahan pekarangan, pengembangan usaha pasca panen dan pengolahan, pengembangan usaha pasca panen dan pengolahan, pengembangan usaha non farm (padat karya), revitalisasi TPG serta replikasi kegiatan PIDRA dan Desa Mandiri Pangan.
Pada tanggal 18 Nopember 2005 Wakil Presiden telah melaunching penanganan bantuan rawan pangan dan gizi buruk di desa Tesabela kabupaten Kupang dengan alokasi anggaran penanganan/intervensi penanggulangan kerawanan pangan dan gizi buruk yang dihimpun dari berbagai instansi terkait mencapai Rp.334.797.761.500.
Untuk efektifitas pelaksanaan kegiatan di tingkat pusat telah dibentuk Tim Koordinasi Penanganan Gizi Buruk dan Rawan Pangan dengan penanggung jawab Menteri Pertanian, Ketua Pelaksana Kepala Badan Ketahanan Pangan, dan anggota dari berbagai instansi terkait. Tim yang sama juga dibentuk di tingkat propinsi dan kabupaten.
Saat ini Indonesia menghadapi permasalahan dibidang sosial, ekonomi, dan politik. Jumlah penduduk miskin terus meningkat, dengan demikian semakin banyak orang yang menghadapi rawan pangan. Secara umum, Indonesia mempunyai permasalahan serius yang berkaitan dengan ketahanan pangan rumah tangga untuk 10 tahun terakhir seperti halnya prevalensi anak-anak kurang gizi.
Terjadinya kasus rawan pangan dan gizi buruk di beberapa daerah, menunjukkan bahwa masalah ketahanan pangan bukan masalah yang sederhana dan dapat diatasi sesaat saja, melainkan merupakan masalah yang cukup kompleks karena tidak hanya memperhatikan situasi ketersediaan pangan atau produksi disisi makro saja melainkan juga harus memperhatikan program-program yang terkait dengan fasilitasi peningkatan akses terhadap pangan dan asupan gizi baik ditingkat rumah tangga maupun bagi anggota rumah tangga itu sendiri.
Masalah ketahanan pangan memiliki dimensi tersendiri dilihat dari keamanan pangan, keanekaragaman pangan dan kualitas pangan. Pangan sebagai kebutuhan pokok terpenting, memiliki keterkaitan langsung dan tidak langsung dengan kondisi kesehatan, kecerdasan dan produktivitas sumberdaya manusia. Di samping itu pemenuhan kebutuhan pangan bagi seluruh penduduk Indonesia merupakan fondasi kuat untuk pembentukan kualitas manusia bangsa Indonesia, merupakan pilar bagi pembangunan ekonomi dan sektor lainnya, serta merupakan wahana untuk memenuhi hak azasi setiap insan atas pangan.
Oleh karena itu berbagai program pembangunan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat kabupaten/kota perlu lebih diarahkan pada dukungan fasilitasi peningkatan produksi dan ketersediaan pangan, distribusi dan aksesibilitas pangan dan perbaikan konsumsi pangan antara lain: (1) pemanfaatan potensi dan keragaman sumberdaya lokal secara efisien dengan memanfaatkan teknologi spesifik lokasi; (2) pengembangan sarana prasarana yang mendukung produksi pangan; (3) peningkatan pelayanan penyuluhan dan pendampingan ketahanan pangan masyarakat (4) pengembangan perdagangan pangan regional dan antar daerah; (5) pengembangan lumbung pangan dan cadangan pangan (6) peningkatan kualitas konsumsi pangan melalui upaya diversifikasi konsumsi pangan (7) revitalisasi Kewaspadaan Pangan dan Gizi sebagai sistem pemantauan secara dini rawan pangan serta (8) serta fasilitasi terhadap permasalahan lain yang terkait dengan penanganan kelompok rawan pangan diatas.
1. Sistem kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG)
Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) dimaksudkan sebagai rangkaian kegiatan pengamatan situasi pangan dan gizi melalui penyediaan data/informasi, pengolahan data, dan analisis serta rencana intervensi untuk penanganan masalah gangguan pangan dan gizi. SKPG merupakan suatu sistem pendeteksian dan pengelolaan informasi tentang situasi pangan dan gizi, yang berjalan terus menerus. Oleh karena itu penerapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi diharapkan dapat diandalkan sebagai alat pemantauan dini, pengolahan dan analisis data, peramalan, pemetaan, maupun perencanaan penanggulangan/intervensi masalah kerawanan pangan dan gizi dengan mengoptimalkan koordinasi lintas sektor.
Melalui kegiatan analisis situasi pangan dan gizi yang didasarkan pada data laporan rutin yang tersedia, atau berdasar hasil survei-survei khusus, dapat dijadikan bahan pengambilan Keputusan ataupun Tindakan Penanganan Masalah Krisis Pangan dan Gizi. Informasi yang dihasilkan menjadi dasar perencanaan, penentuan kebijakan, koordinasi program dan kegiatan penanggulangan kerawanan pangan dan gizi serta evaluasi program jangka panjang maupun program jangka pendek.
Informasi yang dihasilkan dari penerapan SKPG melalui tindakan peramalan secara berkala dapat dijadikan bahan tindakan prefentif terhadap produksi pangan, dengan mewaspadai situasi, melakukan pemantauan tanda-tanda secara intensif Selain itu dipergunakan apabila terjadi ancaman terjadinya krisis pangan, dengan melakukan analisis Indikator dan, krisis pangan/ kelaparan tingkat rumah tangga, gizi kurang dan gizi buruk.
Dengan terjadinya krisis pangan akibat kekeringan, banjir, serangan hama dan penyakit membawa dampak yang memberatkan kehidupan masyarakat, terutama yang tidak memiliki ketahanan ekonomi termasuk para petani di pedesaan yang ikut dalam proses produksi. Untuk menanggulangi dampak krisis tersebut dilaksanakan langkah mendesak melalui intervensi. Jenis intervensi sebagai upaya penanggulangan masalah pangan ditetapkan berdasarkan jenis masalah dengan memperhatikan keadaan daerah.
Melalui kegiatan SKPG dilakukan identifikasi dan inventarisasi daerah rawan pangan kronis dan transient secara dini, sehingga dapat diketahui daerah dan kelompok masyarakat tani (beberapa kelompoktani) yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya dan sebab-sebab terjadinya kerawanan pangan
2. Pemberdayaan Daerah Rawan Pangan (PDRP)
Kegiatan penanganan daerah rawan pangan telah dimulai sejak tahun 2002 dalam bentuk kegiatan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Pemberdayaan Daerah Rawan Pangan (PDRP). Pada tahun berikutnya PDRP tidak lagi dalam bentuk BLM, akan tetapi merupakan kegiatan bantuan kepada masyarakat yang mengalami rawan pangan karena terkena dampak bencana.
PDRP tahun 2004 selain sudah diberikan batasan-batasan dalam Pedoman Umum Program Peningkatan Ketahanan Pangan TA 2004 tentang bentuk bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam pemanfaatan dana PDRP, masih dipandang perlu untuk memberikan Pedomam Umum Pemberdayaan Daerah Rawan Pangan Tahun 2004.
Pada tahun 2006 alokasi dana dikabupaten digabungkan dengan dana kegiatan Desa Mandiri Pangan yaitu rata-rata sebesar Rp.50 juta. Pemanfaatan dana di kabupaten adalah Rp.25 juta untuk kegiatan identifikasi melalui penerapan SKPG dan Rp.25 juta untuk keperluan intervensi.
Bagi kabupaten yang tidak terdapat alokasi dana Tugas Pembantuan, maka dananya dititipkan di provinsi berupa dana dekonsentrasi yang besarnya bervariasi sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan. Bagi daerah yang tidak ada alokasi dana Tugas Pembantuan tugas, apabila terjadi kerawanan pangan maka dana sebesar Rp.25 juta yang dititipkan di provinsi dapat dipergunakan.
Pada tahun 2006 akan diselenggarakan Workshop Penguatan PDRP dalam rangka menyempurnakan Pedum PDRP yang sebelumnya dijadikan acuan dalam pelaksanaan PDRP.
3. Koordinasi Penanganan Kerawanan di Papua, NTB dan NTT
Tiga propinsi yang cukup menonjol masalah kerawanan pangan dan perlu diupayakan penanganannya melalui koordinasi yang baik dengan melibatkan berbagai instansi terkait antara lain di propinsi Papua, khususnya di Yahukimo, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Fokus kegiatan yang dilakukan bertujuan untuk mengindentifikasi masalah rawan pangan dan gizi buruk, menginventarisasi upaya yang telah dilakukan, mengindentifikasi kebutuhan akan bantuan yang diperlukan, melakukan intervensi terbatas sebagai pemicu stakeholder untuk melakukan hal serupa dan sebagai acuan dalam menghapuskan kerawanan pangan.
a. Penanganan di Papua (Yahukimo)
Berdasarkan laporan yang dihimpun, pada dasarnya di Yahukimo belum ada masalah kesehatan yang terkait dengan busung lapar, namun ada indikasi kekurangan bahan pangan. Hal tersebut ditandai dengan dikonsumsinya sayur-sayuran dan buah-buahan dari hutan, karena kebun yang ditanami belum menghasilkan. Sedangkan kasus kematian yang dilaporkan disebabkan karena dehidrasi diare, penyakit ispa dan malaria. Beberapa anak juga diindikasikan mengalami gizi kurang dan kekurangan vitamin.
Untuk mengatasi masalah di Yahukimo telah dilakukan koordinasi penanganan lintas sektoral dengan fokus kegiatan seperti : penataan pemukiman, pengembangan infrastruktur, pembangunan pertanian dan cadangan pangan, penguatan/pemberdayaan kapasitas kelembagaan masyarakat. Rencana yang akan dilakukan dalam jangka menengah adalah pemukiman kembali masyarakat lokal yang tersebar dengan memberikan bantuan perumahan dan pembangunan infrastrtuktur pedesaan, serta bantuan saprodi. Kegiatan lainya adalah pengembangan pangan alternatif (jagung, talas dan sukun), peningkatan pelayanan medis dan penyuluhan pertanian serta pengelolaan cadangan pangan. Rencana jangka panjang adalah peningkatan kemampuan produksi pangan, pengelolaan cadangan pangan dan peningkatan pendapatan masyarakat. Rencana tersebut diimplementasikan melalui kegiatan perbaikan dan pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan, pembangunan dan perbaikan sistem usahatani, pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan, pembangunan infrastruktur penelitian lapangan, peningkatan kemampuan masyarakat dan aparat dalam mengelola usahatani dan lumbung pangan serta revitalisasi TPG.
b. Penanganan di Nusa Tenggara Barat
Masalah yang timbul di NTB adalah gizi kurang. Sampai dengan Juni 2005 tercatat 1.355 balita mengalami gizi kurang, 1.300 gizi buruk, termasuk 596 balita mengalami marasmus, 22 balita mengalami kwashiorkor, dan 17 balita mengalami kasus marasmus – kwashiorkor.
Upaya penanganan balita gizi kurang dan gizi buruk memerlukan pendekatan menyeluruh melalui tahapan pencegahan, tanggap darurat dan rehabilitasi konstruksi. Yang pelaksanaannya harus berkoordinasi antar instansi terkait. Fokus kegiatan yang jangka menengah dan jangka panjang adalah peningkatan ekonomi dan perbaikan konsumsi gizi rumah tangga. Dalam jangka menengah fokus kegiatannya adalah penyediaan sarana produksi dan pengembangan pekarangan, penyebaran ternak ayam dan kambing, gerakan diversifikasi pangan dan gizi, revitalisasi TPG, replikasi kegiatan PIDRA, SPFS dan Desa Mandiri Pangan. Fokus pembangunan jangka panjang adalah perbaikan infrastruktur pedesaan, pengembangan lumbung pangan masyarakat, pangan olahan dan olahannya, pengembangan tanaman bernilai ekonomi (sukun, nangka, mangga dan jambu mete), pengembangan warung desa sebagai sarana promosi pangan beragam dan bergizi seimbang, melanjutkan kegiatan PIDRA, SPFS dan Desa Mandiri Pangan.
c. Penanganan di Nusa Tenggara Timur
Masalah penyebab gizi buruk dan rawan pangan lebih kompleks karena menyangkut masalah kekeringan dan kemiskinan serta faktor lain seperti pemahaman soal gizi seimbang dan lainnya. Jumlah penderita gizi buruk 11.440 orang dengan rincian mengalami marasmus 292 orang, kwashiorkor 1 orang dan marasmus-kwashiorkor 4 orang (Juni 2005).
Dalam rangka mengatasi masalah gizi buruk dan rawan pangan, fokus kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan kapasitas produksi pangan dan peningkatan pendapatan ekonomi rumah tangga. Untuk jangka menengah kegiatan yang dilaksanakan adalah penguatan dan pengembangan kapasitas produksi pangan melalui bantuan benih padi, jagung, kacang tanah dan kacang hijau, serta bantuan sarana produksi pertanian. Selain hal tersebut, dilakukan upaya pemanfaatan lahan pekarangan, pengembangan usaha pasca panen dan pengolahan, pengembangan usaha pasca panen dan pengolahan, pengembangan usaha non farm (padat karya), revitalisasi TPG serta replikasi kegiatan PIDRA dan Desa Mandiri Pangan.
Pada tanggal 18 Nopember 2005 Wakil Presiden telah melaunching penanganan bantuan rawan pangan dan gizi buruk di desa Tesabela kabupaten Kupang dengan alokasi anggaran penanganan/intervensi penanggulangan kerawanan pangan dan gizi buruk yang dihimpun dari berbagai instansi terkait mencapai Rp.334.797.761.500.
Untuk efektifitas pelaksanaan kegiatan di tingkat pusat telah dibentuk Tim Koordinasi Penanganan Gizi Buruk dan Rawan Pangan dengan penanggung jawab Menteri Pertanian, Ketua Pelaksana Kepala Badan Ketahanan Pangan, dan anggota dari berbagai instansi terkait. Tim yang sama juga dibentuk di tingkat propinsi dan kabupaten.
Pegantar Ilmu Pertanian-Fakta Mengenai Pertanian di Indonesia
Fakta Mengenai Pertanian di Indonesia
Sejarah pertanian
Sejarah pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia. Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri. Pertanian memaksa suatu kelompok orang untuk menetap dan dengan demikian mendorong kemunculan peradaban. Terjadi perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat pendukung kehidupan, dan juga kesenian akibat diadopsinya teknologi pertanian. Kebudayaan masyarakat yang tergantung pada aspek pertanian diistilahkan sebagai kebudayaan agraris.
Pertanian di Indonesia
Pembangunan Pertanian di Indonesia tetap dianggap terpenting dari keseluruhan pembangunan ekonomi, apalagi semenjak sektor pertanian ini menjadi penyelamat perekonomian nasional karena justru pertumbuhannya meningkat, sementara sektor lain pertumbuhannya negatif. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya pertanian di Indonesia : (1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam, (2) pangsa terhadap pendapatan nasional cukup besar, (3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini dan (4) menjadi basis pertumbuhan di pedesaan
Potensi pertanian yang besar namun sebagian besar dari petani banyak yang termasuk golongan miskin adalah sangat ironis terjadi di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi sektor pertanian keseluruhan. Disisi lain adanya peningkatan investasi dalam pertanian yang dilakukan oleh investor PMA dan PMDN yang berorientasi pada pasar ekspor umumnya padat modal dan perananya kecil dalam penyerapan tenaga kerja atau lebih banyak menciptakan buruh tani.
Berdasarkan latar belakang tersebut ditambah dengan kenyataan justru kuatnya aksesibilitas pada investor asing /swasta besar dibandingkan dengan petani kecil dalam pemanfaatan sumberdaya pertanian di Indonesia, maka dipandang perlu adanya grand strategy pembangunan pertanian melalui pemberdayaan petani kecil. Melalui konsepsi tersebut, maka diharapkan mampu menumbuhkan sektor pertanian, sehingga pada gilirannya mampu menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal pencapaian sasaran : (1) mensejahterkan petani, (2) menyediakan pangan, (3) sebagai wahana pemerataan pembangunan untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antar masyarakat maupun kesenjangan antar wilayah, (4) merupakan pasar input bagi pengembangan agroindustri, (5) menghasilkan devisa, (6) menyediakan lapangan pekerjaan, (7) peningkatan pendapatan nasional, dan (8) tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya.
Pertanian, sektor yang tidak menarik lagi untuk dilirik di Indonesia, dan sektor yang hampir identik dengan kemiskinan. Terpuruknya pertanian Indonesia paska revolusi hijau (atau penyebab terpuruk pertanian adalah revolusi hijau?) menjadi bahan kajian yang harus kita cermati, karena pangan, bagaimanapun keterpurukan pertanian Indonesia, merupakan faktor yang paling vital bagi hidup manusia.
Berangkat dari kenyataan bahwa terjadi penyempitan lahan pertanian, khususnya Jawa, yang amat luar biasa, diikuti oleh ledakan jumlah penduduk yang membutuhkan pangan, angkatan kerja yang membengkak, produktivitas lahan menurun drastis, degradasi lahan, kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada sektor pertanian, “konspirasi” WTO, melambungnya harga pupuk dan pestisida, dan munculnya kompetitior-kompetitor baru yang siap melahap sektor pertanian Indonesia, yaitu China, Thailand, dll. Hal ini menunjukan pertanian Indonesia telah berada pada titik nadirnya. Kemudian, apa yang harus dilakukan? Dan bagian mana yang harus diperbaiki pada sektor ini khususnya untuk menjaga ketahanan pangan di tahun-tahun mendatang?
Mengikuti logika yang digunakan oleh Boeke, yang menyatakan desa, sebagai pusat produsen pertanian (pangan), masih sangat gagap berhadapan dengan dunia industri. Karakteristik yang masih tradisional baik pada kultur, kehidupan sosial ekonomi, dan penggunaan teknologi sederhana dalam kehidupan sehari-hari (bertani) berimplikasi pada corak kematangan masyarakat yang ada. Pada level ini, sebelum kapitalisme merembes masuk ke desa, Boeke sering menyebut desa berswasembada dengan aktivitas internal yang dilaluinya. Hidup dengan harmonis, kebutuhan hidup dipenuhi sendiri, aktivitas ekonomi dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan akumulasi kapital seperti dunia industri, dan desa berdiri mandiri tanpa banyak intervensi kapital dari luar. Namun, kemudian keadaan ini rusak akibat adanya interaksi dengan perkotaan yang sistemnya samasekali berkebalikan dengan sistem yang selama ini hidup di desa. Pada saat berhadapan dengan sesuatu yang asing inilah, desa sangat gagap untuk beradaptasi dengan sistem yang baru dan bahkan lebih buruk lagi, desa terlindas oleh perkembangan keadaan ini. Jika demikian, Indonesia yang lebih dua pertiga wilayahnya merupakan daerah pedesaan dan sebagian besar pendudukya bertempat tinggal di pedesaan merupakan korban yang sangat menderita.
Selain kenyataan di atas, terdapat kenyataan pahit lainnya yang dihadapi pertanian Indonesia, khususnya pada masalah luas lahan, tenaga kerja, dan produktivitasnya. Semenjak sistem tanam paksa diterapkan, konstruksi kepemilikan lahan berubah total. Fenomena yang menonjol adalah munculnya buruh-buruh pertanian yang tidak memiliki lahan atau hanya memiliki lahan yang sempit (Sritua Arif dan Adi Sasono; 1984). Hal ini berimplikasi sampai saat ini dengan kepemilikan lahan yang sempit untuk pertanian. Sejalan dengan Cliford Geertz yang menyatakan adanya involusi di sektor pertanian karena antara perkembangan penduduk (jumlah keluarga) tidak sebanding dengan kepemilikan lahan yang juga produktivitasnya sangat rendah. Pertanian berjalan di tempat—bahkan berjalan mundur. Ini menunjukan masalah kemiskinan sulit dituntaskan di sektor pertanian Indonesia.
Kondisi Pembangunan Pertanian Indonesia Saat Ini
Dalam sejarah perekonomian Indonesia sejak Pelita I hingga akhir pemerintahan Orde Reformasi, pentingnya pembangunan pertanian seringkali didengung dengungkan, namun dalam kenyataannya tetap saja pemberdayaan petani kurang diperhatikan. Kondisi pertanian saat ini diuraikan sebagai berikut:
1. Pendapatan petani masih rendah baik secara nominal maupun secara relatif dibandingkan dengan sektor lain.
2. Usaha pertanian yang ada didominasi oleh cirri-ciri : (a) skala kecil, (b) modal terbatas, (c) teknologi sederhana, (d) sangat dipengaruhi musim, (e) wilayah pasarnya lokal , (f) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), (g) akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah, (h) Pasar komoditi pertanian sifatnya mono/oligopsoni sehingga terjadi eksploitasi harga pada petani.
3. Pendekatan parsial yang yang bertumpu pada peningkatan produktifitas usahatani yang tidak terkait dengan agroindustri. Hal ini menunjukkan fondasi dasar agribisnis belum terbentuk dengan kokoh sehingga sistem dan usaha agribisnis belum berkembang seperti yang diharapkan, yang terjadi kegiatan agribisnis masih bertumpu pada kegiatan usahatani.
4. Pembangunan pertanian yang ada kurang terkait dengan pembangunan pedesaan.
5. Kurang memperhatikan aspek keunggulan komparatif yang dimiliki wilayah. Pembangunan agribisnis yang ada masih belum didasarkan kepada kawasan unggulan.
6. Kurang mampu bersaing di pasaran, sehingga membanjirnya impor khususnya komoditas hortikultura.
7. Terdapat senjang produktivitas dan mutu yang cukup besar sehingga daya saing produk pertanian Indonesia masih mempunyai peluang yang sangat besar untuk ditingkatkan.
8. Pangsa pasar ekspor produk pertanian Indonesia masih kecil dan sementara kapasitas dan potensi yang dimilikinya lebih besar.
9. Kegiatan agroindustri masih belum berkembang. Produk –produk perkebunan semenjak zaman Belanda masih berorentasi pada ekspor komoditas primer (mentah)
10.Terjadinya degradasi kualitas sumberdaya pertanian akibat pemanfaatan yang tidak mengikuti pola-pola pemanfaatan yang berkelanjutan .
11.Masih lemahnya kelembagaan usaha dan kelembagaan petani. Usaha agribisnis skalarumah tangga, skala kecil dan agribisnis skala besar belum terikat dalam kerjasama yang saling membutuhkan , saling memperkuat dan saling menguntungkan. Yang terjadi adalah penguasaan pasar oleh kelompok usaha yang kuat sehingga terjadi distribusi margin keuntungan yang timpang (skewed) yang merugikan petani.
12. Lemahnya peran lembaga penelitian, sehingga temuan atau inovasi benih/ bibitunggul sangat terbatas
13. Lemahnya peran lembaga penyuluhan sebagai lembaga transfer teknologi kepada petani, setelah era otonomi daerah.
14. Kurangnya pemerintah memberdayakan stakeholder seperti perguruan tinggi, LSM,dalam pembangunan pertanian.
15.Lemahnya dukungan kebijakan makro ekonomi baik fiscal maupun moneter seperti kemudahan kredit bagi petani, pembangunan irigasi maupun pasar, dll
Sejarah pertanian
Sejarah pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia. Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi dirinya sendiri. Pertanian memaksa suatu kelompok orang untuk menetap dan dengan demikian mendorong kemunculan peradaban. Terjadi perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat pendukung kehidupan, dan juga kesenian akibat diadopsinya teknologi pertanian. Kebudayaan masyarakat yang tergantung pada aspek pertanian diistilahkan sebagai kebudayaan agraris.
Pertanian di Indonesia
Pembangunan Pertanian di Indonesia tetap dianggap terpenting dari keseluruhan pembangunan ekonomi, apalagi semenjak sektor pertanian ini menjadi penyelamat perekonomian nasional karena justru pertumbuhannya meningkat, sementara sektor lain pertumbuhannya negatif. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya pertanian di Indonesia : (1) potensi sumberdayanya yang besar dan beragam, (2) pangsa terhadap pendapatan nasional cukup besar, (3) besarnya penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini dan (4) menjadi basis pertumbuhan di pedesaan
Potensi pertanian yang besar namun sebagian besar dari petani banyak yang termasuk golongan miskin adalah sangat ironis terjadi di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi sektor pertanian keseluruhan. Disisi lain adanya peningkatan investasi dalam pertanian yang dilakukan oleh investor PMA dan PMDN yang berorientasi pada pasar ekspor umumnya padat modal dan perananya kecil dalam penyerapan tenaga kerja atau lebih banyak menciptakan buruh tani.
Berdasarkan latar belakang tersebut ditambah dengan kenyataan justru kuatnya aksesibilitas pada investor asing /swasta besar dibandingkan dengan petani kecil dalam pemanfaatan sumberdaya pertanian di Indonesia, maka dipandang perlu adanya grand strategy pembangunan pertanian melalui pemberdayaan petani kecil. Melalui konsepsi tersebut, maka diharapkan mampu menumbuhkan sektor pertanian, sehingga pada gilirannya mampu menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal pencapaian sasaran : (1) mensejahterkan petani, (2) menyediakan pangan, (3) sebagai wahana pemerataan pembangunan untuk mengatasi kesenjangan pendapatan antar masyarakat maupun kesenjangan antar wilayah, (4) merupakan pasar input bagi pengembangan agroindustri, (5) menghasilkan devisa, (6) menyediakan lapangan pekerjaan, (7) peningkatan pendapatan nasional, dan (8) tetap mempertahankan kelestarian sumberdaya.
Pertanian, sektor yang tidak menarik lagi untuk dilirik di Indonesia, dan sektor yang hampir identik dengan kemiskinan. Terpuruknya pertanian Indonesia paska revolusi hijau (atau penyebab terpuruk pertanian adalah revolusi hijau?) menjadi bahan kajian yang harus kita cermati, karena pangan, bagaimanapun keterpurukan pertanian Indonesia, merupakan faktor yang paling vital bagi hidup manusia.
Berangkat dari kenyataan bahwa terjadi penyempitan lahan pertanian, khususnya Jawa, yang amat luar biasa, diikuti oleh ledakan jumlah penduduk yang membutuhkan pangan, angkatan kerja yang membengkak, produktivitas lahan menurun drastis, degradasi lahan, kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada sektor pertanian, “konspirasi” WTO, melambungnya harga pupuk dan pestisida, dan munculnya kompetitior-kompetitor baru yang siap melahap sektor pertanian Indonesia, yaitu China, Thailand, dll. Hal ini menunjukan pertanian Indonesia telah berada pada titik nadirnya. Kemudian, apa yang harus dilakukan? Dan bagian mana yang harus diperbaiki pada sektor ini khususnya untuk menjaga ketahanan pangan di tahun-tahun mendatang?
Mengikuti logika yang digunakan oleh Boeke, yang menyatakan desa, sebagai pusat produsen pertanian (pangan), masih sangat gagap berhadapan dengan dunia industri. Karakteristik yang masih tradisional baik pada kultur, kehidupan sosial ekonomi, dan penggunaan teknologi sederhana dalam kehidupan sehari-hari (bertani) berimplikasi pada corak kematangan masyarakat yang ada. Pada level ini, sebelum kapitalisme merembes masuk ke desa, Boeke sering menyebut desa berswasembada dengan aktivitas internal yang dilaluinya. Hidup dengan harmonis, kebutuhan hidup dipenuhi sendiri, aktivitas ekonomi dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup bukan akumulasi kapital seperti dunia industri, dan desa berdiri mandiri tanpa banyak intervensi kapital dari luar. Namun, kemudian keadaan ini rusak akibat adanya interaksi dengan perkotaan yang sistemnya samasekali berkebalikan dengan sistem yang selama ini hidup di desa. Pada saat berhadapan dengan sesuatu yang asing inilah, desa sangat gagap untuk beradaptasi dengan sistem yang baru dan bahkan lebih buruk lagi, desa terlindas oleh perkembangan keadaan ini. Jika demikian, Indonesia yang lebih dua pertiga wilayahnya merupakan daerah pedesaan dan sebagian besar pendudukya bertempat tinggal di pedesaan merupakan korban yang sangat menderita.
Selain kenyataan di atas, terdapat kenyataan pahit lainnya yang dihadapi pertanian Indonesia, khususnya pada masalah luas lahan, tenaga kerja, dan produktivitasnya. Semenjak sistem tanam paksa diterapkan, konstruksi kepemilikan lahan berubah total. Fenomena yang menonjol adalah munculnya buruh-buruh pertanian yang tidak memiliki lahan atau hanya memiliki lahan yang sempit (Sritua Arif dan Adi Sasono; 1984). Hal ini berimplikasi sampai saat ini dengan kepemilikan lahan yang sempit untuk pertanian. Sejalan dengan Cliford Geertz yang menyatakan adanya involusi di sektor pertanian karena antara perkembangan penduduk (jumlah keluarga) tidak sebanding dengan kepemilikan lahan yang juga produktivitasnya sangat rendah. Pertanian berjalan di tempat—bahkan berjalan mundur. Ini menunjukan masalah kemiskinan sulit dituntaskan di sektor pertanian Indonesia.
Kondisi Pembangunan Pertanian Indonesia Saat Ini
Dalam sejarah perekonomian Indonesia sejak Pelita I hingga akhir pemerintahan Orde Reformasi, pentingnya pembangunan pertanian seringkali didengung dengungkan, namun dalam kenyataannya tetap saja pemberdayaan petani kurang diperhatikan. Kondisi pertanian saat ini diuraikan sebagai berikut:
1. Pendapatan petani masih rendah baik secara nominal maupun secara relatif dibandingkan dengan sektor lain.
2. Usaha pertanian yang ada didominasi oleh cirri-ciri : (a) skala kecil, (b) modal terbatas, (c) teknologi sederhana, (d) sangat dipengaruhi musim, (e) wilayah pasarnya lokal , (f) umumnya berusaha dengan tenaga kerja keluarga sehingga menyebabkan terjadinya involusi pertanian (pengangguran tersembunyi), (g) akses terhadap kredit, teknologi dan pasar sangat rendah, (h) Pasar komoditi pertanian sifatnya mono/oligopsoni sehingga terjadi eksploitasi harga pada petani.
3. Pendekatan parsial yang yang bertumpu pada peningkatan produktifitas usahatani yang tidak terkait dengan agroindustri. Hal ini menunjukkan fondasi dasar agribisnis belum terbentuk dengan kokoh sehingga sistem dan usaha agribisnis belum berkembang seperti yang diharapkan, yang terjadi kegiatan agribisnis masih bertumpu pada kegiatan usahatani.
4. Pembangunan pertanian yang ada kurang terkait dengan pembangunan pedesaan.
5. Kurang memperhatikan aspek keunggulan komparatif yang dimiliki wilayah. Pembangunan agribisnis yang ada masih belum didasarkan kepada kawasan unggulan.
6. Kurang mampu bersaing di pasaran, sehingga membanjirnya impor khususnya komoditas hortikultura.
7. Terdapat senjang produktivitas dan mutu yang cukup besar sehingga daya saing produk pertanian Indonesia masih mempunyai peluang yang sangat besar untuk ditingkatkan.
8. Pangsa pasar ekspor produk pertanian Indonesia masih kecil dan sementara kapasitas dan potensi yang dimilikinya lebih besar.
9. Kegiatan agroindustri masih belum berkembang. Produk –produk perkebunan semenjak zaman Belanda masih berorentasi pada ekspor komoditas primer (mentah)
10.Terjadinya degradasi kualitas sumberdaya pertanian akibat pemanfaatan yang tidak mengikuti pola-pola pemanfaatan yang berkelanjutan .
11.Masih lemahnya kelembagaan usaha dan kelembagaan petani. Usaha agribisnis skalarumah tangga, skala kecil dan agribisnis skala besar belum terikat dalam kerjasama yang saling membutuhkan , saling memperkuat dan saling menguntungkan. Yang terjadi adalah penguasaan pasar oleh kelompok usaha yang kuat sehingga terjadi distribusi margin keuntungan yang timpang (skewed) yang merugikan petani.
12. Lemahnya peran lembaga penelitian, sehingga temuan atau inovasi benih/ bibitunggul sangat terbatas
13. Lemahnya peran lembaga penyuluhan sebagai lembaga transfer teknologi kepada petani, setelah era otonomi daerah.
14. Kurangnya pemerintah memberdayakan stakeholder seperti perguruan tinggi, LSM,dalam pembangunan pertanian.
15.Lemahnya dukungan kebijakan makro ekonomi baik fiscal maupun moneter seperti kemudahan kredit bagi petani, pembangunan irigasi maupun pasar, dll
Dasat Ilmu Tanaman-transportasi pada tumbuhan
1. Jelaskan definisi dan fungsi dari a) membrane plasma, b) tonoplas, c) plasmodesmata, dan d) aquaporin, dalam kaitannya denga transportasi pada tanaman.
a) Membran plasma, yaitu membran yang membatasi dinding sel dengan sitosol. Bersifat selektif permeabel. Berfungsi mengatur pergerakan dari linarut yang berada di dalam sitosol dengan larutan di luar sel dan mengatur komposisi kimia sel.
b) Tonoplas, yaitu membran yang menyeliputi vakuola sentral sel tumbuhan. Berfungsi memisahkan sitosol dari cairan sel dan mengatur transportasi larutan di dalam sitosol dengan larutan di dalam vakuola.
c) Plasmodesmata, yaitu saluran terbuka di dalam dinding sel tumbuhan. Berfungsi menghubungkan sitosol suatu sel dengan sitosol sel sebelahnya.
d) Aquaporin, yaitu suatu protein transport dalam membran plasma sel tumbuhan dan hewan yang khusus memfasilitasi difusi air melalui membran. Merupakan saluran spesifik untuk aliran air secara pasif tidak menyebabkan gradient potensial air dan saluran berpintu yang dapat membuka dan menutup dalam merespon tekanan turgor sel. Mempengaruhi laju transportasi air melintasi membran dan mempengaruhi laju difusi. Berfungsi meningkatkan sel untuk mengatur laju pengambilan dan pengeluaran air ketika potensial air sel tidak sama dengan potensial air diluar sel.
2. Jelaskan definisi dan fungsi dari a) simplas, b) apoplas, c) pita kaspari dan d) stomata dalam kaitannya dengan transportasi pada tanaman.
a) Simplas merupakan proses pengangkutan intrasel (di dalam) sel hidup. Air akan bergerak melalui plasmodesmata. Diperkirakan terdapat 5 x 108 plasmodesmata/cm2. Hal ini menunjukkan banyak sekali saluran yang terdapat pada sel-sel yang berdekatan. Atau, jalur pergerakan air dan linarut tertentu melalui sel epidermis dan korteks. Air dan linarut masuk ke dalam el endodermis melalui plasmodesmata sel endodermis kemudian ke stele dan masuk ke pembuluh xylem.
b) Apoplas merupakan proses pengangkutan air melalui ruang-ruang diantara dinding sel. Atau jalur pergerakan air dan linarut dari larutan tanah melalui ruang antar sel. Masuk ke dalam sel endodermis melalui membran plasma endodermis yang selektif permeable kemuadian ke stele dan masuk ke pembuluh xylem.
c) Pita kaspari merupakan suatu sabuk dari zat lilin (berwarna ungu) yang memblokir lewatnya air dan mineral yang terlarut atau rangkaian pita yang dibentuk oleh dinding sel yang mengalami penebalan gabus.
d) Stomata adalah bukaan pada epidermis yang sebagian besar terdapat pada bawah daun dan meregulasi pertukaran gas. Stomata dibentk oleh dua sel epidermis yang terspesialisasi yang disebut sel penjaga yang meregulasi besarnya diameter stomata. Stomata juga terdistribusi secara spesisfik berdasarkan spesies.
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan a) transportasi tingkat sel, b) transportasi tingkat jaringan dalam organ, c) transportasi aktif dan d) transportasi pasif dalam kaitannya dengan transportasi pada tanaman.
a) Transportasi tingkat sel, yaitu pengambilan dan pengeluaran air beserta linarut oleh sel, misal absopsi air dari mineral oleh sel akar. Merupkan transportasi melalui membrane plasma sel yang selektif permeable. Bagian yang mengatur aliranmolekul air ke luar dank e dalam sel, yaitu membrane plasma, tonoplas dan plasmodesmata (tunggal : plasmodesma)
b) Transportasi tingkat jaringan dalam organ (transportasi jarak dekat), yaitu transportasi zat dari sel ke sel pada tingkatan jaringan dalam suatu organ. Disebut juga transportasi literal atau transportasi jarak dekat. Arahnya sepanjang sumbu radial organ tumbuhan. Tediri dari tiga lintasan, yaitu lintasan transmembran, lintasan simplastik dan lintasan apoplastik.
c) Transportasi aktif, yaitu pergerakan zat melintasi membrane biologis yang berlawanan dengan gradient konsentrasi ataupun gradient elektrokimia dengan dengan bantuan input energi dan protein transport.
d) Transportasi pasif, yaitu difusi dari antar zat melintasi suatu membran biologis. Terjadi secara langsung tanpa mengeluarkan energi metabolisme oleh sel. Melibatkan aquaporin.
4. Gambar dan jelaskan tentang pengaruh a) pemompaan proton, b) pemakaian tekanan fisik, c) suatu tekanan negative, d) pengambilan anion dan d) transportasi linarut yang netral, dalam kaitannya dengan transportasi pada tanaman.
5. Gambar dan jelaskan tentang a) penambahan linarut, b) pemakaian tekanan fisik, c) suatu tekanan negative, terhadap besarnyapotensial air.
6. Gambar dan jelaskan tentang transportasi lateral dari mineral dan air di dalan akar.
7. Jelaskan peranan a) tekanan akar, b) gaya tarik transpirasi, c) gaya tarik kohesi dan d) gaya tarik adhesi, terhadap transportasi cairan xylem.
a) Tekanan akar, merupakan tekanan ke atas dari cairan xylem. Terjadi akibat adanya akumulasi mineral di dalam stele sehingga terjadi penurunan potensial air. Air yang masuk ke dalam korteks akar mendorong cairan dalam stele masuk ke xylem menyebabkan gutasi.
b) Gaya tarik transpirasi, disebut sebagai tenaga penarik untuk memindahkan air di dalam daun. Disebabkan karena udara di luar daun lebih kering dibandingkan dengan udara di dalam daun. Disebabkan karena konsentrasi air di udara lebih kecil dibandingkan dengan konsentrasi air di dalam daun.
c) Gaya tarik kohesi, menyebabkan gaya tarik menarik antar molekul air di dalam cairan xylem dari atas sampai ke bawah. Menciptakan tensi pada xylem, sehingga potensial air di dalam xylem akar menurun yang menyebabkan air dari tanah masuk ke korteks akar dan menuju stele. Tensi pada xylem menyebabkan diameter trakeid mengecil dan dapat meningkatkan adhesi.
d) Gaya tarik adhesi, menyebabkan gaya tarik menarik antara molekul air terhadap dinding sel xylem yang hidrofilik. Melawan arah gravitasi sehingga air dapat naik.
8. Jelaskan yang dimaksud dengan a) sumber gula, b) pengguna gula, c) pemuatan phloem, dan d) pembongkaran phloem, pada translokasi cairan phloem.
a) Sumber gula (sugar source), merupakan organ tumbuhan tempat gula diproduksi melalui fotosintesis atau perombakan amilum. Contoh : daun dewasa, yang merupakan sumber gula primer.
b) Pengguna gula (sugar sink), merupakan organ mengkonsumsi bersih sumber gula primer. Contoh : akar yang sedang tumbuh, ujung ranting, batang dan buah. Biasanya menerima gula dari sumber gula yang paling dekat.
c) Pemuatan phloem, gula dari sel mesofil dan dari sumber gula lainnya dimuatkan ke dalam elemen pembuluh tapis sebelumditranslokasikan, mengakibatkan konsentrasi larutan pada satu ujung sumber gula pembuluh tapis meningkat yang menyebabkan penurunan potensial air.
d) Pembongkaran phloem, terjadi di ujung pengguna dalam pembuluh tapis. Mekanismenya tergantung dari spesias tumbuhan dan tipe organ. Menyebabkan gradient konsentrasi gula yaitu konsentrasi gula dalam pengguna gula lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi gua dalam pembuluh tapis. Molekul gula berdifusi dari phloem ke pengguna gula dan air mengikutinya secara osmosis.
a) Membran plasma, yaitu membran yang membatasi dinding sel dengan sitosol. Bersifat selektif permeabel. Berfungsi mengatur pergerakan dari linarut yang berada di dalam sitosol dengan larutan di luar sel dan mengatur komposisi kimia sel.
b) Tonoplas, yaitu membran yang menyeliputi vakuola sentral sel tumbuhan. Berfungsi memisahkan sitosol dari cairan sel dan mengatur transportasi larutan di dalam sitosol dengan larutan di dalam vakuola.
c) Plasmodesmata, yaitu saluran terbuka di dalam dinding sel tumbuhan. Berfungsi menghubungkan sitosol suatu sel dengan sitosol sel sebelahnya.
d) Aquaporin, yaitu suatu protein transport dalam membran plasma sel tumbuhan dan hewan yang khusus memfasilitasi difusi air melalui membran. Merupakan saluran spesifik untuk aliran air secara pasif tidak menyebabkan gradient potensial air dan saluran berpintu yang dapat membuka dan menutup dalam merespon tekanan turgor sel. Mempengaruhi laju transportasi air melintasi membran dan mempengaruhi laju difusi. Berfungsi meningkatkan sel untuk mengatur laju pengambilan dan pengeluaran air ketika potensial air sel tidak sama dengan potensial air diluar sel.
2. Jelaskan definisi dan fungsi dari a) simplas, b) apoplas, c) pita kaspari dan d) stomata dalam kaitannya dengan transportasi pada tanaman.
a) Simplas merupakan proses pengangkutan intrasel (di dalam) sel hidup. Air akan bergerak melalui plasmodesmata. Diperkirakan terdapat 5 x 108 plasmodesmata/cm2. Hal ini menunjukkan banyak sekali saluran yang terdapat pada sel-sel yang berdekatan. Atau, jalur pergerakan air dan linarut tertentu melalui sel epidermis dan korteks. Air dan linarut masuk ke dalam el endodermis melalui plasmodesmata sel endodermis kemudian ke stele dan masuk ke pembuluh xylem.
b) Apoplas merupakan proses pengangkutan air melalui ruang-ruang diantara dinding sel. Atau jalur pergerakan air dan linarut dari larutan tanah melalui ruang antar sel. Masuk ke dalam sel endodermis melalui membran plasma endodermis yang selektif permeable kemuadian ke stele dan masuk ke pembuluh xylem.
c) Pita kaspari merupakan suatu sabuk dari zat lilin (berwarna ungu) yang memblokir lewatnya air dan mineral yang terlarut atau rangkaian pita yang dibentuk oleh dinding sel yang mengalami penebalan gabus.
d) Stomata adalah bukaan pada epidermis yang sebagian besar terdapat pada bawah daun dan meregulasi pertukaran gas. Stomata dibentk oleh dua sel epidermis yang terspesialisasi yang disebut sel penjaga yang meregulasi besarnya diameter stomata. Stomata juga terdistribusi secara spesisfik berdasarkan spesies.
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan a) transportasi tingkat sel, b) transportasi tingkat jaringan dalam organ, c) transportasi aktif dan d) transportasi pasif dalam kaitannya dengan transportasi pada tanaman.
a) Transportasi tingkat sel, yaitu pengambilan dan pengeluaran air beserta linarut oleh sel, misal absopsi air dari mineral oleh sel akar. Merupkan transportasi melalui membrane plasma sel yang selektif permeable. Bagian yang mengatur aliranmolekul air ke luar dank e dalam sel, yaitu membrane plasma, tonoplas dan plasmodesmata (tunggal : plasmodesma)
b) Transportasi tingkat jaringan dalam organ (transportasi jarak dekat), yaitu transportasi zat dari sel ke sel pada tingkatan jaringan dalam suatu organ. Disebut juga transportasi literal atau transportasi jarak dekat. Arahnya sepanjang sumbu radial organ tumbuhan. Tediri dari tiga lintasan, yaitu lintasan transmembran, lintasan simplastik dan lintasan apoplastik.
c) Transportasi aktif, yaitu pergerakan zat melintasi membrane biologis yang berlawanan dengan gradient konsentrasi ataupun gradient elektrokimia dengan dengan bantuan input energi dan protein transport.
d) Transportasi pasif, yaitu difusi dari antar zat melintasi suatu membran biologis. Terjadi secara langsung tanpa mengeluarkan energi metabolisme oleh sel. Melibatkan aquaporin.
4. Gambar dan jelaskan tentang pengaruh a) pemompaan proton, b) pemakaian tekanan fisik, c) suatu tekanan negative, d) pengambilan anion dan d) transportasi linarut yang netral, dalam kaitannya dengan transportasi pada tanaman.
5. Gambar dan jelaskan tentang a) penambahan linarut, b) pemakaian tekanan fisik, c) suatu tekanan negative, terhadap besarnyapotensial air.
6. Gambar dan jelaskan tentang transportasi lateral dari mineral dan air di dalan akar.
7. Jelaskan peranan a) tekanan akar, b) gaya tarik transpirasi, c) gaya tarik kohesi dan d) gaya tarik adhesi, terhadap transportasi cairan xylem.
a) Tekanan akar, merupakan tekanan ke atas dari cairan xylem. Terjadi akibat adanya akumulasi mineral di dalam stele sehingga terjadi penurunan potensial air. Air yang masuk ke dalam korteks akar mendorong cairan dalam stele masuk ke xylem menyebabkan gutasi.
b) Gaya tarik transpirasi, disebut sebagai tenaga penarik untuk memindahkan air di dalam daun. Disebabkan karena udara di luar daun lebih kering dibandingkan dengan udara di dalam daun. Disebabkan karena konsentrasi air di udara lebih kecil dibandingkan dengan konsentrasi air di dalam daun.
c) Gaya tarik kohesi, menyebabkan gaya tarik menarik antar molekul air di dalam cairan xylem dari atas sampai ke bawah. Menciptakan tensi pada xylem, sehingga potensial air di dalam xylem akar menurun yang menyebabkan air dari tanah masuk ke korteks akar dan menuju stele. Tensi pada xylem menyebabkan diameter trakeid mengecil dan dapat meningkatkan adhesi.
d) Gaya tarik adhesi, menyebabkan gaya tarik menarik antara molekul air terhadap dinding sel xylem yang hidrofilik. Melawan arah gravitasi sehingga air dapat naik.
8. Jelaskan yang dimaksud dengan a) sumber gula, b) pengguna gula, c) pemuatan phloem, dan d) pembongkaran phloem, pada translokasi cairan phloem.
a) Sumber gula (sugar source), merupakan organ tumbuhan tempat gula diproduksi melalui fotosintesis atau perombakan amilum. Contoh : daun dewasa, yang merupakan sumber gula primer.
b) Pengguna gula (sugar sink), merupakan organ mengkonsumsi bersih sumber gula primer. Contoh : akar yang sedang tumbuh, ujung ranting, batang dan buah. Biasanya menerima gula dari sumber gula yang paling dekat.
c) Pemuatan phloem, gula dari sel mesofil dan dari sumber gula lainnya dimuatkan ke dalam elemen pembuluh tapis sebelumditranslokasikan, mengakibatkan konsentrasi larutan pada satu ujung sumber gula pembuluh tapis meningkat yang menyebabkan penurunan potensial air.
d) Pembongkaran phloem, terjadi di ujung pengguna dalam pembuluh tapis. Mekanismenya tergantung dari spesias tumbuhan dan tipe organ. Menyebabkan gradient konsentrasi gula yaitu konsentrasi gula dalam pengguna gula lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi gua dalam pembuluh tapis. Molekul gula berdifusi dari phloem ke pengguna gula dan air mengikutinya secara osmosis.
Dasat Ilmu Tanaman-fotosintesis
1. Jelaskan peran cahaya dan kloroplas dalam fotosintesis !
Cahaya memberikan warna hijau pada daun karena cahaya berinteraksi dengan kloroplas. Cahaya nampak berperan dalam mengendalikan fotosintesis.
Dalam kloroplas terdapat grana dan stroma, grana mengandung klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis dan merupakan tempat berlangsungnya reaksi terang yang mengkonversi energi cahaya menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH. Sedangkan stroma pada kloroplas berlangsung siklus Calvin yang mengkonversi CO2 menjadi gula dengan menggunakan ATP dan NADPH.
2. Apa yang dimaksud dengan kemiosmosis ?
Kemiosmosis merupakan mekanisme pembentukan ATP yang berlangsung pada kloroplas dan mitokondria.
3. Jelaskan perbedaan kemiosmosis antara di dalam kloroplas dan di dalam mitokondria !
1) Pada kloroplas
• Dinamakan fotofosforilasi
• Mentransformasi energi cahaya menjadi energi kimia
• Dikendalikan oleh membran tilakoid
2) Pada mitokondria
• Dinamakan fosforilasi oksidatif
• Mentransfer energi kimia dari molekul makanan menjadi ATP
• Dikendalikan oleh membran mitokondria dengan memompa proton dari metrik mitokondria keluar keruang inter membran.
4. a. Apa yang dimaksud dengan reaksi terang ?
Reaksi terang adalah reaksi pembentukan ATP dan NADPH dengan dikendalikan oleh cahaya yang berlangsung di dalam grana, tepatnya pada membran tilakoid.
b. Jelaskan apa yang terjadi pada reaksi terang ?
Pada reaksi terang energi cahaya dikonversi menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH, mengendalikan transfer elektron dan hidrogen dari air ke NADP+, mereduksi NADP+ menjadi NADPH, mengubah ADP menjadi ATP (Fotofosforilasi), memfotolisis H2O, dan menghasilkan O2 dengan melibatkan Fotosistem I, Fotosistem II, Sitokrom, Plastoquinon (Pc), Plastosianin (Ps), dan Feredoxin (Fd)
5. a. Apa yang dimaksud dengan reaksi gelap (siklus Calvin) ?
Reaksi gelap (siklus Calvin) adalah reaksi pembentukan Gliserida – 3 – Phospat (G-3-P) dengan menggunakan ATP sebagai sumber energi dan menggunakan NADPH sebagai tenaga pereduksi yang berlangsung di dalam stroma.
b. Jelaskan apa yang terjadi pada reaksi gelap (siklus Calvin) ?
Pada reaksi gelap (siklus Calvin) terjadi fiksasi CO2 dan reduksi karbon yang terfiksasi menjadi karbohidrat dalam bentuk Gliserida – 3 – Phospat (G-3-P) dan terdiri dari tiga tahapan : 1) Fiksasi karbon, 2) Reduksi, 3) Regenerasi RuBP (akseptor CO2)
c. Jelaskan perbedaan antara reaksi terang dan reaksi gelap (siklus Calvin) !
Reaksi terang
• Berlangsung di dalam grana, tepatnya pada membran tilakoid
• Mengkonversi energi cahaya menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH
• Dikendalikan oleh cahaya
• Mengendalikan transfer elektron dan hidrogen dari air ke NADP+
• Mereduksi NADP+ menjadi NADPH
• Mengubah ADP menjadi ATP (Fotofosforilasi)
• Memfotolisis H2O
• Menghasilkan O2
• Melibatkan Fotosistem I, Fotosistem II, Sitokrom, Plastoquinon (Pc), Plastosianin (Ps), dan Feredoxin (Fd)
Reaksi gelap (siklus Calvin)
• Berlangsung di dalam stroma
• Memfiksasi CO2 dan mereduksi karbon yang terfiksasi menjadi karbohidrat dalam bentuk Gliserida – 3 – Phospat (G-3-P)
• Menggunakan ATP sebagai sumber energi
• Menggunakan NADPH sebagai tenaga pereduksi
• ATP dan NADPH merupakan hasil dari reaksi terang
• Terdiri dari tiga tahapan : 1) Fiksasi karbon
3) Reduksi
4) Regenerasi RuBP (akseptor CO2)
6. a. Jelaskan mengenai lintasan C3, C4, dan CAM !
b. Jelaskan perbedaan antara tanaman C3, C4, dan CAM !
Tanaman C3 :
Melibatkan enzim RuBP karboksilase (rubisco)
RuBP sebagai akseptor CO2
Produk awal berupa 3-fosfogliserat (3-PGA) (Karbohidrat Berkarbon 3)
Pada lingkungan hari-hari terang, kering dan panas :
o Stomata tertutup dan konsentrasi O2 pada daun lebih besar dari konsentrasi CO2
o Terjadi fotorespirasi
o Menggunakan cahaya
o Mengkonsumsi O2
o Mengeluarkan CO¬2
o Tidak memproduksi ATP
o Tidak memproduksi makanan
o Menurunkan hasil fotosintesis
Tanaman C4 :
Melobatkan enzim PEP karboksilase (pepeo)
PEP sebagai akseptor CO2
Produk awal berupa oksal asetat atau malat (karbohidrat berkarbon 4)
Tipe sel fotosintesis
Meminimalkan fotorespirasi dan meningkatkan produksi gula sehingga lebih efisien
Tanaman CAM :
Stomata membuka pada malam hari
CO2 difiksasi pada malam hari dan diubah menjadi asam organik didalam vakuola sel mesofil
Pada siang hari CO2 dilepaskan dari asam organik untuk membuat gula pada kloroplas
c. Sebutkan contoh-contoh tanaman yang termasuk lintasan C3, C4, dan CAM!
o Tanaman C3 : padi, gandum, kedelai
o Tanaman C4 : tebu, jagung
o Tanaman CAM : nenas, kaktus, dan sukulenta dari familia Crassulaceae
7. Jelaskan faktor-faktor (faktor dalam dan luar) yang mempengaruhi kecepatan fotosintesis !
8. Apa yang dimaksud hasil bersih fotosintesis ?
Cahaya memberikan warna hijau pada daun karena cahaya berinteraksi dengan kloroplas. Cahaya nampak berperan dalam mengendalikan fotosintesis.
Dalam kloroplas terdapat grana dan stroma, grana mengandung klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis dan merupakan tempat berlangsungnya reaksi terang yang mengkonversi energi cahaya menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH. Sedangkan stroma pada kloroplas berlangsung siklus Calvin yang mengkonversi CO2 menjadi gula dengan menggunakan ATP dan NADPH.
2. Apa yang dimaksud dengan kemiosmosis ?
Kemiosmosis merupakan mekanisme pembentukan ATP yang berlangsung pada kloroplas dan mitokondria.
3. Jelaskan perbedaan kemiosmosis antara di dalam kloroplas dan di dalam mitokondria !
1) Pada kloroplas
• Dinamakan fotofosforilasi
• Mentransformasi energi cahaya menjadi energi kimia
• Dikendalikan oleh membran tilakoid
2) Pada mitokondria
• Dinamakan fosforilasi oksidatif
• Mentransfer energi kimia dari molekul makanan menjadi ATP
• Dikendalikan oleh membran mitokondria dengan memompa proton dari metrik mitokondria keluar keruang inter membran.
4. a. Apa yang dimaksud dengan reaksi terang ?
Reaksi terang adalah reaksi pembentukan ATP dan NADPH dengan dikendalikan oleh cahaya yang berlangsung di dalam grana, tepatnya pada membran tilakoid.
b. Jelaskan apa yang terjadi pada reaksi terang ?
Pada reaksi terang energi cahaya dikonversi menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH, mengendalikan transfer elektron dan hidrogen dari air ke NADP+, mereduksi NADP+ menjadi NADPH, mengubah ADP menjadi ATP (Fotofosforilasi), memfotolisis H2O, dan menghasilkan O2 dengan melibatkan Fotosistem I, Fotosistem II, Sitokrom, Plastoquinon (Pc), Plastosianin (Ps), dan Feredoxin (Fd)
5. a. Apa yang dimaksud dengan reaksi gelap (siklus Calvin) ?
Reaksi gelap (siklus Calvin) adalah reaksi pembentukan Gliserida – 3 – Phospat (G-3-P) dengan menggunakan ATP sebagai sumber energi dan menggunakan NADPH sebagai tenaga pereduksi yang berlangsung di dalam stroma.
b. Jelaskan apa yang terjadi pada reaksi gelap (siklus Calvin) ?
Pada reaksi gelap (siklus Calvin) terjadi fiksasi CO2 dan reduksi karbon yang terfiksasi menjadi karbohidrat dalam bentuk Gliserida – 3 – Phospat (G-3-P) dan terdiri dari tiga tahapan : 1) Fiksasi karbon, 2) Reduksi, 3) Regenerasi RuBP (akseptor CO2)
c. Jelaskan perbedaan antara reaksi terang dan reaksi gelap (siklus Calvin) !
Reaksi terang
• Berlangsung di dalam grana, tepatnya pada membran tilakoid
• Mengkonversi energi cahaya menjadi energi kimia dalam bentuk ATP dan NADPH
• Dikendalikan oleh cahaya
• Mengendalikan transfer elektron dan hidrogen dari air ke NADP+
• Mereduksi NADP+ menjadi NADPH
• Mengubah ADP menjadi ATP (Fotofosforilasi)
• Memfotolisis H2O
• Menghasilkan O2
• Melibatkan Fotosistem I, Fotosistem II, Sitokrom, Plastoquinon (Pc), Plastosianin (Ps), dan Feredoxin (Fd)
Reaksi gelap (siklus Calvin)
• Berlangsung di dalam stroma
• Memfiksasi CO2 dan mereduksi karbon yang terfiksasi menjadi karbohidrat dalam bentuk Gliserida – 3 – Phospat (G-3-P)
• Menggunakan ATP sebagai sumber energi
• Menggunakan NADPH sebagai tenaga pereduksi
• ATP dan NADPH merupakan hasil dari reaksi terang
• Terdiri dari tiga tahapan : 1) Fiksasi karbon
3) Reduksi
4) Regenerasi RuBP (akseptor CO2)
6. a. Jelaskan mengenai lintasan C3, C4, dan CAM !
b. Jelaskan perbedaan antara tanaman C3, C4, dan CAM !
Tanaman C3 :
Melibatkan enzim RuBP karboksilase (rubisco)
RuBP sebagai akseptor CO2
Produk awal berupa 3-fosfogliserat (3-PGA) (Karbohidrat Berkarbon 3)
Pada lingkungan hari-hari terang, kering dan panas :
o Stomata tertutup dan konsentrasi O2 pada daun lebih besar dari konsentrasi CO2
o Terjadi fotorespirasi
o Menggunakan cahaya
o Mengkonsumsi O2
o Mengeluarkan CO¬2
o Tidak memproduksi ATP
o Tidak memproduksi makanan
o Menurunkan hasil fotosintesis
Tanaman C4 :
Melobatkan enzim PEP karboksilase (pepeo)
PEP sebagai akseptor CO2
Produk awal berupa oksal asetat atau malat (karbohidrat berkarbon 4)
Tipe sel fotosintesis
Meminimalkan fotorespirasi dan meningkatkan produksi gula sehingga lebih efisien
Tanaman CAM :
Stomata membuka pada malam hari
CO2 difiksasi pada malam hari dan diubah menjadi asam organik didalam vakuola sel mesofil
Pada siang hari CO2 dilepaskan dari asam organik untuk membuat gula pada kloroplas
c. Sebutkan contoh-contoh tanaman yang termasuk lintasan C3, C4, dan CAM!
o Tanaman C3 : padi, gandum, kedelai
o Tanaman C4 : tebu, jagung
o Tanaman CAM : nenas, kaktus, dan sukulenta dari familia Crassulaceae
7. Jelaskan faktor-faktor (faktor dalam dan luar) yang mempengaruhi kecepatan fotosintesis !
8. Apa yang dimaksud hasil bersih fotosintesis ?
Langganan:
Postingan (Atom)